Meidrin Jhoni, Tokoh Potensial Pimpin Sungai Penuh

Sungai Penuh. KK.

Temperatur politik terkait pemilihan walikota Sungai Penuh yang bakalan digelar beberapa tahun kedepan nampaknya mulai memanas. Sejumlah figur bermunculan dengan berbagai latar belakang. Hal ini salah satunya lantaran belum nampaknya peningkatan yang signifikan dalam perekonomin rakyat.

Diantara sekian banyak tokoh yang diuar-uarkan maju, satu nama tokoh muda dr.Meidrin Joni,Sp,OG muncul dengan penampilan yang sedikit beda. Disela-sela kesibukannya, Meusein Jhoni tampak mengunjungi Tokoh politik dan Tokoh masyarakat Sungai Penuh sekaligus menawarkan konsep Sungai Penuh SEHAT Di segala Bidang.

Persoalan Di pusat kota Sungai Penuh yang semakin tidak tertata dengan rapi, dikala hujan,sering terjadi banjir yang melanda Sungai Penuh akibat Drainase yang tidak terurus dengan Baik padahal selama ini masyarakat mengatakan kami selama ini tidak pernah banjir, dan masih banyak masalah lainnya yang tidak terurus dengan baik, dr.Meidrin Joni menyampaikan kesiapan dan keseriusannya memimpin Sungai Penuh kedepan menuju arah perbaikan dan Sungai Penuh Sehat di segala Bidang. Sebuah konsep yang menarik perhatian banyak publik.

" Rasa ini timbul karena merasa miris, ketika melihat kegagalan memimpin Sungai Penuh saat ini. Nasib rakyat di masa lalu bukan menjadi bahan introspeksi dan sadar diri, yang ada dan hakekat pemimpin yang sebenarnya ini malah semakin kecanduan. Begitu elokkah jabatan yang diperebutkan hingga kegagalan demi kegagalan, rentannya usia, dan putihnya rambut tidak menjadikan mawas diri dan takut menanggung semua pertanggung jawaban yang semakin dekat di hadapan Illahi" ujar Meidrin Joni.

Meidrin Jhoni juga menambahkan, sikap kesewenang-wenangan terhadap nasib dan harta rakyat telah menjadikan lupa diri bahwa mereka pengayom rakyat bukan perampok rakyat. Gemerlapan kemewahan telah menjadikannya lupa pada posisinya sebagai pelayan masyarakat yang dititipi amanah untuk memperbaiki nasib rakyat yang semakin hari semakin mengucapkan keluhannya akibat didera kesulitan hidup. Rakyat tidak butuh pemimpin yang pintar dan piawai berpidato.

Masyarakat butuh pemimpin yang mendengar tangisan pilu nasibnya dan mengulurkan tangannya untuk berdiri tegak bersama-sama dalam mengatasi masalah dengan asas kejujuran dan kepercayaan serta kerendahan dan kesederhanaan.

Oleh karena itu pemimpin yang akan datang harus orang yang memiliki pribadi yang bersih dan jujur. Mengurangi fasilitas-fasilitas para pejabat hingga pasilitas yang selama ini diberikan bisa dialokasikan untuk kepentingan rakyat banyak. 

Pemimpin yang mengalokasikan gaji para pejabat dengan gaji yang cukup plus fasilitas yang sederhana seperti fasilitas mobil yang harganya tidak mahal dan tidak murah. Itu pun harus digunakan pada hari kerja. Rakyat butuh pemimpin yang menjadikan mereka aman hingga mereka tidak perlu berteriak histeris dan turun ke jalan demi mendapat perhatian pemimpin yang sudah tidak mampu melihat keberadaannya.

Tidak ada komentar