Ribuan Ikan Sungai Air Baru Tuan Luak, Mati Diracun

Kerinci. KK
Kejahatan manusia di Indonesia saat ini tidak hanya tertuju pada masalah korupsi kolusi dan nevotisme, bahkan merambah pada lingkungan hidup yang dengan sendirinya merupakan tempat tinggal jutaan makhluk dari berbagai spesies. Seperti yang baru-baru ini ditemukan di Sungai Bandar baru tuan luak disekitar areal persawahan Tanjung Pauh-Semerah-Bunga Tanjung, yang merupakan salah satu anak dari sungai batang merao.

Minggu (06/01/2019), ribuan ikan dari berbagai jenis ditemukan mengapung sepanjang aliran sungai tersebut, informasi yang didapat dari masyarakat yang beraktivitas disepanjang sungai menyampaikan, matinya ribuan ikan-ikan tersebut disebabkan keracunan bahan jenis putas yang sering kali dipakai dalam kegiatan penangkapan ikan secara ilegal.

Salah satu warga mengaku melihat segerombolan pemuda dalam jumlah berkisar 10 (sepululuh) orang pada jam 21.00 WIB sedang melakukan aksi penangkapan ikan dengan memakai bahan putas.

" Ya, mereka menggunakan penerangan senter, dengan menabur putas dan dibantu jaring, mereka mendapatkan ikan dalam jumlah amat banyak. Namun kami tidak berani menegurnya, karena kalah jumlah. Dari dialek bahasa yang dipakai, kami dapat memastikan kalau mereka warga asal TJP yang secara geografis berdekatan langsung dengan sungai tersebut" ujar Andri, salah satu saksi mata.

Betra dari salah satu Komunitas Pecinta Alam, mengecam keras praktek liar tersebut. Menurutnya hal ini sudah merupakan bentuk pelanggaran yang amat melampaui batas. Sebab dengan memakai racun jenis putas tersebut, semua ikan dari berbagai ukuran akan menerima dampak negatifnya, bahkan punah dari habitat.

" Harus ada tindakan tegas dari aparat hukum serta instansi terkait, sebab ini jelas merupakan bentuk pelanggaran yang tidak bisa ditolerir, dasar hukumnya seperti yang tertuang dalam Undang-undang RI Nomor 31 tahun 2019 Tentang Perikanan, dalam pasal 84 jelas disebutkan bahwa penangkapan ikan yang menggunakan bahan berbahaya dapat diancam dengan pidana penjara maksimal 6 (enam) tahun, serta denda maksimal Rp. 1,2 miliar" ujarnya.

Penelusuran media kabar kerinci dilokasi juga menemukan warna putih bangkai ikan terlihat bertebaran sepanjang sungai, dan untuk memulihkan keadaan seperti semula rasanya amat mustahil.

Tidak ada komentar