Lagi-lagi, Tanah Adat Jadi Bahan Komersil



Kerinci-KK.

Kisruh adat kembali terulang di Kerinci, kali ini menimpa wilayah Tamiai kecamatan Batang Merangin. Uang hasil penjualan tanah adat masyarakat Tamiai diduga telah digelapkan oleh sejumlah oknum nakal. Hal ini membuahkan pertanyaan besar ditengah masyarakat.


Tidak tanggung-tanggung warga mempertanyakan uang hasil penjualan tanah tersebut melalui jalur hukum dengan melaporkan  ke pihak Kepolisian Resort Kerinci secara resmi.

“ya, sebanyak 40 hektar tanah yang beradi di lokasi terowongan kiri kanan sungai sudah dijual ke PLTA, itukan milik masyarakat bukan milik pribadi, lantas kemana uang tersebut, kita sebagai masyarakat mempertanyakan hal tersebut, dan sudah melaporkan ke pihak kepolisian pada tanggal 01 Pebruari 2022 lalu” ungkap salah seorang warga.


Usut punya usut, dikabarkan uang tersebut dibagi-bagikan kepada 18 orang warga, tidak jelas asal usul kepemilikan, sebab lokasi pinggir sungai bukan milik pribadi tapi milik adat dan masyarakat. Buktinya ada tanda terima ditandatangani di atas materai Rp. 6000 setiap orang yang menerima uang. Dan diantara warga yang menandatangai terdapat nama Khaidir, Afrizal, Mardeli, Astri, Nasrun Juharmito, dan sejumlah nama lainnya.


Buya Mardeli yang meeupakan salah satu aktor utama dalam kongkalingkong ini, selalu mengelak ketika beeusaha dihubungi wartawan untuk konfirmasi, “langsung dengan ketua saja” ungkapnya singkat. Begitu juga dengan pak Saf yang namanya juga tertuang disana.

(Red).

Tidak ada komentar